banner 728x250

Warung Kopi Cukin Toboali: Kopi dan Kehangatan Cita Rasa Penuh Aroma 

BE,TOBOALI– Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, ada satu tempat yang menjadi oase bagi masyarakat Toboali, Bangka Selatan. Warung kopi bukan sekadar tempat minum, tapi sebuah panggung kebersamaan yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, Rabu (24/01/2024).

Masyarakat Toboali, seorang perempuan seperti halnya Sindi, telah menjadikan warung kopi sebagai bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian mereka.

“Kurang pas rasanya kalau nggak kena kopi sehari saja,” ujar Sindi, menggambarkan betapa dalamnya hubungan mereka dengan kopi.

Warung kopi di Toboali, terutama Warkop Cukin, bukan sekadar tempat untuk mengisi perut dan merasakan aroma kopi yang khas. Ini adalah panggung di mana cerita-cerita keseharian Toboali terpampang, sambil menyeruput kopi dengan kenikmatan yang sulit diungkapkan.

Salah satu daya tarik utama Warkop Cukin adalah kopi pancung. Tak seperti warung kopi lainnya di Indonesia, di Toboali, kopi pancung adalah raja dari segala raja. Kopi hitam atau kopi susu disajikan dengan ukuran setengah gelas atau gelas kecil, memberikan sensasi unik dalam setiap tegukan.

Ayung atau ko yung sapaan akrab nya, generasi penerus Warkop Cukin Toboali, menjelaskan, kita buka sejak pagi hingga malam hari.

“Kopi pancung menjadi favorit pengunjung, memberikan energi sejak subuh hingga malam.” ungkap Ko yung.

Di bawah atap-atap warung kopi Toboali, tak hanya terdengar suara mesin kopi yang berdenting. Para pecinta kopi ini juga berdiskusi tentang berbagai topik hangat, mulai dari perkembangan Toboali Bangka Selatan hingga perhelatan calon presiden-wakil presiden Indonesia.

Warkop Cukin menjadi saksi bisu pembicaraan seru, di mana aroma kopi tak hanya membangkitkan semangat tetapi juga ide-ide segar untuk kemajuan daerah. Kopi menjadi pengikat, menghubungkan masyarakat dalam diskusi dan perbincangan yang berkesan.

Dalam suasana siang hari, warung kopi menjadi tempat yang lebih spesial. Meskipun biasanya kopi dinikmati bersama hidangan lain seperti mie rebus, goreng, atau kue cang, pada bulan suci ini, penikmat kopi lebih fokus pada minuman kegemaran mereka.

“Para penikmat kopi jarang yang memesan penganan lain sebagai pendamping. Mereka memang bertandang ke warkop khusus untuk menikmati kopi,” kata Ko yung.

Sekilas, warkop-warkop di Toboali memang identik dengan kehadiran kaum pria. Namun, perlahan namun pasti, tren berubah.

“Sekarang perempuan yang berkunjung ke warkop sudah ramai bersama rombongan teman-temannya,” jelas Ayung.

Momen kebersamaan tak hanya menjadi milik kaum pria, tapi juga melibatkan perempuan dalam berbagi cerita dan tawa di sekitar secangkir kopi.

Dari kebersamaan di warung kopi Toboali, tergambar bahwa kopi bukan hanya sekadar minuman, tapi juga medium penghubung masyarakat. Dalam setiap tegukan, tersemat harapan dan energi positif untuk masa depan yang lebih baik.

Kunjungan ke Warkop Cukin Toboali tak sekadar tentang kopi; ini adalah perjalanan dalam memahami jalinan antarmanusia, yang tercipta melalui secangkir kopi di suatu sudut kecil Bangka Selatan.

Seiring matahari tenggelam di ufuk barat, Warkop Cukin tetap menjadi saksi bisu kisah-kisah kehidupan sehari-hari masyarakat Toboali yang terus berlanjut, sambil aroma kopi tetap menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *