banner 728x250

M Jujur

banner 120x600

Oleh Fakhruddin Halim

SORE itu, angkutan kota (angkot) yang saya tumpangi berhenti di Simpang Tiga Aur Kuning. Tepat dibibir Jalan Diponegoro, Kota Bukittinggi. Seorang wanita paruh baya berkerudung hitam segera turun.

“Da turun dimana?” tanya sopir angkot jenis kijang, warna biru muda. Kontan saja saya tersentak. Saya pun akhirnya memilih turun juga di sana. Selembar uang kertas dua puluh ribuan saya rogoh dari kocek. Dengan sigap sang sopir menghitung kembaliannya lantas menyerahkannya pada saya. Angkot yang saya tumpangi dari Hotel Pusako tadi segera berlalu dari hadapan.

Simpang Tiga Aur Kuning tampak ramai. Berbagai jenis mobil tampak berseliweran.Jalanan tampak semrawut. Banyak pula kendaraan roda empat yang parkir di sembarang tempat. Di sekitar budaran yang sempit itu terlihat puluhan mobil parkir, hingga memakan setengah badan jalan. Keruan saja jalanan menjadi sesak dan macet. Ditambah suara klakson yang sahut-sahutan. Berisik!

Mata saya tertuju pada gerobak berwarna biru muda, di depan penjual aneka kue tepat di pojok bundaran, menarik perhatian. Segera saya menghampiri gerobak itu. Yang menarik hati bukanlah warna gerobak itu, atau gerobak itu sendiri. Tapi yang membuat hati kepincut adalah tulisan berwarna orange yang menempel di dinding sebelah atas gerobak yang terbuat dari kaca. “Tahu Berontak Chaniago”.

Mendengar kata berontak, teringat akan sejarah Indonesia. Ranah Minang memang dikenal sebagai negeri para pengobar ‘pemberontakan’.

Dari rahim negeri “Adat Bersandikan Sarak, Sarak Bersandikan Kitabullah”, lahir tokoh-tokoh yang oleh penjajah Belanda dicap sebagai pemberontak. Mereka adalah, Tan Malaka, Hamka, Syahril, Moh Hatta, M Natsir dan puluhan lainnya. Bahkan Hatta sendiri adalah orang Bukittinggi.

Uda, kata saya, boleh numpang duduk? Tanya saya pada seorang pria yang tengah mencelupkan tahu kedalam adonan tepung, “Yo boleh,” katanya sembari tersenyum.

Saya memilih duduk di bangku panjang di belakan gerobak. Pria tadi membelakangi saya dan menghadap jalan raya.

Pria bertubuh kerempeng itu tampak perlente. Kumis tipis bertengger di atas bibirnya yang tipis itu. Menggunakan kaos berkerah dengan motif kotak-kotak dengan paduan warna hitam, kuning, dan hijau muda. Kaos itu dimasukkan kedalam celana berbahan kain warna biru tua. Lengkap dengan ikat pinggang warna hitam berbahan kulit.

Di telapak kakinya menempel, sepatu sandal warna hitam berbahan kulit. Ia tampak lebih mirip seorang pegawai kantoran. “Muhammad Jujur Chaniago,” katanya ketika kami berjabat tangan.

M Jujur, tak pernah rehat mencelupkan tahu kedalam adonan. Setelah itu tahu yang sudah dicelupkan ia masukkan kedalam penggorengan yang berisi minyak panas di kiri gerobak.

Sebuah tabung miyak tanah yang berisi delapan liter miyak diletakkan di samping bangku panjang berwarna coklat, tepat di sebelah kiri saya.

Sekitar satu meter selang seukuran selang infus, menghubungkan antara tabung dengan kompor yang berada dalam gerobak.

“Ceeem, ceeem, ceem..,”setiap kali Jujur memasukkan tahu yang sudah dilumuri adonan kedalam penggorengan. Aroma bawang putih dan campuran bumbu lainnya menusuk hidung, menggugah selera.

Adonan diracik sendiri oleh Jujur. Berbahan tepung terigu,telur ayam, bawang daun, bawang putih, garam, kunyit dan penyedap rasa secukupnya. Perpaduan bumbu inilah membuat Tahu Berontak berbeda dengan tahu lainnya yang bayak juga dijual di Bukittinggi.

Cukup dengan Rp700, kita sudah bisa menikmati kelezatan satu buah tahu berontak. Ukurannya memang tak terlalu besar, seukuran seperempat telapak tangan. Tapi rasanya yang membuat lidah orang, istilah Iwan Piliang akan bergoyang. Yang penting rasanya bung!

Sejak enam tahun lalu M Jujur, mangkal di Simpang Aur. Berjualan selepas asar sampai menjelang magrib. Hasilnya? Rp200 ribu sampai Rp300 ribu masuk kedalam saku celananya.
“Keuntungannya 50 persen lebih,” katanya.

Ini artinya, M Jujur seharinya mendapatkan keuntungan sekitar Rp100 ribu sampai Rp150 ribu. Setiap bulan ia bisa mengantongi Rp3 juta sampai Rp4,5 juta. Wow…! Angka yang fantastis.

Ia lahir di Batu Sangkar, 32 tahun yang lalu. Sekolahnya? “ SD pun saya tak tamat,” katanya tersipu. Ia menolak melanjutkan sekolah. Memilih merantau seperti kebanyakan orang Minang.

Kelas 5 SD ia kabur ke Dumai Riau, ikut pamannya berjualan siomay. Dua tahun mejadi penjual siomay ia banting stir, bekerja pada tukang pembuat etalase kaca. Hanya beberapa tahun saja bertahan. Ia pulang ke Padang membuka kedai nasi.

M Jujur tidak pernah merasa puas. Jiwanya selalu bergolak untuk mencari sesuatu yang baru.

Ia berangkat ke Jakarta. Selama delapan tahun di ibukota beragam profesi ia lakoni. Mulai dari tukang semir sepatu, tukang jahit dan pekerjaan lainnya.

Tak ada harapan berkembang di ibukota, M Jujur kembali ke Batusangkar. Membantu orang tuanya menggarap sawah.

Hanya beberapa tahun ia bertahan melakoninya. Orang Minang memang terkenal dengan jiwa merantaunya. Pantang berlama-lama di kampung.

M Jujur kembali mencari peruntungan. Pilihannya ke Dumai. Tujuh bulan di sana berjualan siomai tak banyak menolongnya. Ia kembali bekerja membuat etalase kaca. Hasilnya sama saja. Tapi ia tetap bersemangat mengarungi hidup.

“Bagaimana pun hidup harus terus berjalan dan kita harus berjuang,” katanya.

Ia coba lagi peruntungan di Jakarta. Kali ini dia membuka kedai nasi. Hasilnya lumayan, tapi tetap ia merasa belum mantab.

Baru pada tahun 1991 ia memilih untuk pulang ke Batusangkar. “Pekerjaan apa saja saya lakoni, yang penting halal.”

Tapi, tetap saja bekerja serabutan tak memberinya satu kepastian. Kebetulah ayahnya pernah bekerja pada penjual tahu orang Bogor di Padang. Pengalaman dan ilmu dari ayahnya ini akhirnya dikembangkannya. Dimodifikasi sedemikian rupa.

Enam tahun lalu, dia memulai mempraktekkannya. Di Simpang Tiga Aur Kuning Bukittinggi.

Dia menjadi penjual tahu. Hanya dengan bermodalkan uang Rp500 ribu dan gerobak sewaan seharga Rp1.500 sehari, dia mulai peruntungannya.

Allah berkehendak lain, bapak satu putra kali ini beruntung.

Anak saya putra umurnya 1,9 tahun.”
“Da tahunyo Rp20.000,” kata seorang pembeli wanita muda berkerudung, menyela obrolan kami.

M Jujur dengan lincah memasukkan tahu panas dengan aroma menusuk hidung kedalam kantong plastik hitam. Di dalam kontong sudah dilapisi koran bekas.

Selembar uang dua puluhan ribu sudah berpindah tangan. Wanita itu hendak berlalu, tapi, “Sebentar uni,masih kurang satu tahunya,” kata M Jujur, “Tak apalah, saya terburu-buru, sudah ditunggu oto mau ke Padang,” sahut wanita itu.

M Jujur bersikeras, “Indak biso, iko masih kurang. Sebentar lagi tahunya masak.” Wanita itu mengalah. “Ambo indak ingin pembeli rugi,” jelas M Jujur pada wanita itu.

Setiap kali dia mengangkat tahu dari penggorengan, dua atau tiga orang pembeli telah menantinya.

Ingatan saya kembali pada sosok, Tan Malaka, Hatta dan M Natsir. Memang mereka telah meninggal. Bahkan Tan malaka meninggalnya dalam keadaan tragis. Nyawanya dihabisi oleh anak bangsanya sendiri. Dan sampai hari ini tak pasti dimana letak pusaranya.

Walau Harry A Poeze memperkirakan pusara Tan terletak di sekitar Nganjuk. Tapi tetap saja banyak pihak meragukannya.

Semangat Natsir atau Hamka yang tak pernah kenal kata menyerah seolah telah merasuk kedalam jiwa M Jujur.

Walau tak tamat SD, dan barangkali juga tak pernah mengenal gagasan M Hatta tentang kemandirian ekonomi. M Jujur mempraktekkan ajaran itu.

M Jujur juga tak pernah bertemu dengan M Natsir atau Hamka. Dia hanya mengenal nama kedua tokoh itu sebagai ulama besar. Yang keluar masuk penjara karena kejujuran sikapnya itulah menghantarkan mereka kedalam penjara dua rezim. Rezim Sukarno dan Suharto
Dan bahkan ketika dipenjara itulah Hamka merampungkan karya monumentalnya Tafsir al-Azhar yang sangat mashur itu.

Tapi hari ini M Jujur mempraktekkan kejujuran itu. Kejujuran yang sudah mulai hilang dari negeri ini.

“Ambo ingin mengembangkan usaho iko. Tapi ambo tak tahu caronyo,” katanya lirih.

Hati saya terenyuh. Bukankah ada dinas perindustrian, perdagangan atau koperasi? kata saya heran.

“Ambo indak mangarti berurusan dengan pemerintah,” akunya.

Hari semakin sore, ingin rasanya saya mencicipi tahunya ketika itu. Tapi ups..ini bulan Ramadan dan saya sedang berpuasa.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.25. Andai tak ada jadwal kembali pukul 18.00 ke Hotel Pusako. Saya akan betah berlama-lama dengan M Jujur. Bahkan saya akan mengikutinya kerumah. Untuk berkenalan dengan keluarganya, untuk belajar. Ya belajar tentang kehidupan ini.

Saya pun berpamitan, dan mudah-mudahan pada waktu dan kesempatan lain saya akan mampir lagi. Saya memesan tahu berontak chaniago Rp10.000.

Dengan cekatan ia memasukkan tahu-tahu panas itu kedalam kantong plastik.
Dua bungkus saos cabai ia sertakan sebagai teman makan tahu.

Kami bersalaman, dia tersenyum, “Terimo kasih uda lain kali mampir lagi,” katanya hangat.
Saya pun mengangguk.

Bagi saya M Jujur adalah seorang pejuang yang selalu bertekad untuk hidup mandiri. Tidak tergantung apalagi didikte oleh pihak lain.

“Kita telah berjuang Minke, sehormat-hormatnya, walau pun kalah.” Kata Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya “ Bumi Manusia”.
Dan M Jujur juga telah berjuang, tapi menang! (*)

Artikel ini bagian dari tugas ketika mengikuti Workshop Literary Journalism di Hotel Pusako Bukittinggi, Sumatera Barat, Ramadhan 2008.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *