banner 728x250

Kasus DBD di Bangka Selatan Menurun

BE,TOBOALI- Dalam sebuah laporan yang dirilis oleh Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana, terungkap tren yang positif dalam penurunan kasus demam berdarah dengue (DBD), di wilayah Bangka Selatan, Rabu (27/09/2023).

Data yang tercatat sejak awal tahun hingga September 2023 menunjukkan hanya ada 32 kasus DBD yang memerlukan perawatan medis, dengan angka kematian sebanyak 2 orang. Keberhasilan ini menciptakan kontras yang signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, di mana terdapat 111 kasus DBD.

Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit Bangka Selatan, Slamet Wahidin, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama penurunan kasus DBD adalah tingkat kesadaran yang semakin tinggi di kalangan masyarakat.

“Kesadaran dan edukasi yang mana masyarakat saat ini memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya pemberantasan sarang nyamuk,” ujar Slamet setelah melakukan sosialisasi pemberantasan dan pengendalian penyakit DBD.

Upaya pemberantasan sarang nyamuk juga telah ditingkatkan di tingkat RT hingga kecamatan, melalui gerakan 3M Plus. Salah satu tindakan yang diambil adalah menguras bak mandi dan wadah yang berisi udara bersih, serta mengubur barang-barang yang tidak diperlukan.

Slamet mengingatkan pentingnya pemeriksaan anak yang mengalami demam selama 2 sampai 3 hari.

“Jika demam anak 2 sampai 3 hari tidak membaik, segera diperiksa ke fasilitas kesehatan. Tanda bahaya infeksi demam berdarah pada hari ke 3 lemas, muntah, sakit perut, pendarahan, pembesaran hati, penggumpalan cairan, dan peningkatan hematokrit cepat disertai penurunan trombosit drastis,” jelasnya.

Selain itu, efektivitas sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di masyarakat juga turut berkontribusi pada penurunan kasus DBD. Pihak yang berwenang secara rutin melakukan sosialisasi dan penyuluhan mengenai PHBS serta peduli lingkungan kepada masyarakat.

Slamet menutup pernyataannya dengan mengingatkan warga untuk tetap peduli terhadap lingkungan, mengingat cuaca yang tidak menentu seperti hujan dan panas dapat menciptakan tempat perindukan nyamuk. Upaya kolektif ini menjadi penting dalam memastikan berkelanjutannya kasus DBD di Bangka Selatan.

“Meski angka kasus DBD sudah turun drastis, masyarakat di Bangka Selatan tetap dihimbau untuk menjaga kepedulian terhadap lingkungan, mengingat cuaca yang tidak menentu dapat menciptakan tempat perindukan nyamuk. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, harapannya angka kasus DBD akan terus berkurang di masa mendatang.” tutup Slamet.(Yudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *