banner 728x250

Garis Polisi Diputusi, Polisi Dikangkangi, Tambang Ilegal Kolong Buntu Gaspool Lagi

BE,SUNGAILIAT- Sudah bisa ditebak razia yang digelar Polres Bangka pimpinan Kabag Ops pada Selasa (19/3/2024) diduga hanya sebatas formalitas saja. Meski sempat ditutup selama 6 hari, tambang illegal Kolong Buntu Desa Nangnung Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka kembali beroperasi.

Mirisnya, police line (garis polisi) yang sudah terpasang di lokasi diputusi oleh para penambang dan koordinator disana yang diakui oknum anggota TNI yang berdinas di Koram 045/Garuda Jaya berinisial HA.

Aktifitas tambang illegal masuk wilayah Ijin Usaha Pertambangan (WIUP) dan aset milik PT. Timah Tbk berada di Jalan Timah Raya Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka.

Selain meresahkan masyarakat lantaran suara bising mesin tambang, puluhan ponton yang beraktifitas juga membabat tanaman hutan bakau dan ada juga yang sudah berbentuk kolong besar.

Pantauan media bangkaIndependent.com , Senin (25/3/2024), tambang illegal Kolong Buntu sejak pagi sudah beroperasi lagi. Puluhan mungkin ratusan sepeda motor nampak memadati lokasi tambang. Telah berdiri sakan sakan dan mesin TI berderu satu sama lainnya di antara sela-sela pohon kelapa.

“Tempo hari saya sudah bilang sama abang, polisi datang hanya menonton orang kerja nyuci timah. Memang infonya setelah itu disuruh tutup dulu sementara beraktifitas tunggu situasi kondusif. Bukan rahasia umum lagi di Bangka nih kalau dirazia, besok-besoknya tutup lagi. Apalagi, siapa yang berani membuka atau memutusi garis polisi yang jelas-jelas menentang hukum,” kata warga setempat meminta namanya jangan disebut.

Menurut warga, tambang illegal Kolong Buntu kini hanya dikoodinir oknum TNI saja. “Benar oknum TNI yang ditulis abang inisial HA yang tugas di Korem. Kalau pak RT Nangnung, Riyadi Agus sudah mundur gak berani atau mau lagi menanggung resiko. Pak RT Agus sudah pernah didatangi rombongan Paminal Polda di rumahnya bahkan sampai ke lokasi. Infonya ditanya soal ada tidak keterlibatan oknum perwira polisi inisil F yang menerima setoran,” bebernya.

Informasi dihimpun, memang benar kasus tambang illegal ini sempat menarik atensi/perhatian petinggi Polri. Utusan dari Polda Babel yakni Paminal sudah mendatangi lokasi tambang. Namun sayangnya, pasca didalakukan investigasi mendalam, malahan oknum TNI inisial HA yang masih punya nyali melanggar hukum.

Sementara itu, Komandan Sub Detasemen Polisi Militer (Denpom) II/5 Bangka, Mayor Hari masih dalam Upaya konfirmasi terkait ada oknum anggota TNI yang menjagi beking tambang illegal.

Kapolres Bangka, AKBP Toni Sarjaka saat dikonfirmasikan akan menindaklanjuti laporan tersebut. “Makasih infonya, kami selidiki,” jawab kapolres.

Diberitakan sebelumnya, dalam sehari tambang kolong buntu yang beroperasi sebanyak 20 an ponton bisa menghasilkan 1 ton pasir timah perhari.

“Satu ponton minimal 30 an kilo, disana ada lebih 20 an ponton. Pagi begawe, siang sudah nyuci timah, sore pun selesai nyuci timah lagi. Jadi wajar kalau sehari lebih dari 1 ton,” kata sumber media terpercaya media ini, Selasa 19/3/2024).

Menurut sumber, sebelum beroprasi, tambang di kawasan Nangnung ini sempat di demo warga. “Ada sekitar 50 warga demo karena suara bising mesin minta ampun. Bahkan yang kerja di ponton harus membeli alat peredam dengan Ketua RT Nangung insial RA. Bahkan dulunya ada plang himbauan dilarang menambang dari Polres Bangka, tapi plang tersebut sudah hilang dicopot,” ungkapnya.

Informasi dari warga sekitar yang enggan menyebutkan namanya, tambang tersebut benar dikoordinir petugas keamanan lapangan insil HA, oknum anggota TNI AD.

Bahkan warga mengaku untuk menambang disana harus membayar Down Payment (DP) Rp. 3 juta. “Sikok ponton ingin masuk bayar DP dulu, istilah kita Duit Panjar. Kemudian ada fee perkilo 25 ribu, cantingan masjid, cantingan jaga malam dan cantingan pemuda. Banyak kan bang potongannya, wajar karena ngasil nambang disana,” bebernya.

Dikonfirmasikan terpisah, HA, oknum TNI AD mengatakan cuma membantu warga saja. “Bener bang, kita la bantu Masyarakat. Kapan ketemu ?,” katanya, Selasa (19/3/2024).

Sedangkan, RA, Ketua RT Nangnung saat dihubungi melalui sambungan ponselnya terdengar suara berisik. “Lagi di lokasi,” sebutnya. Terdengar suara bising dan banyak warga di suara telepon. (doni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *